Industri skincare global terus berkembang. Berdasarkan proyeksi Statista, pasar skincare Indonesia diperkirakan mencapai US$3,19 miliar pada 2026. Pasar ini juga diperkirakan tumbuh sekitar 5,76% setiap tahun hingga 2031. Angka tersebut menunjukkan bahwa peluang untuk brand skincare baru maupun brand yang sudah ada masih terbuka.
Namun, besarnya pasar juga diikuti perubahan tren yang cukup cepat. Konsumen kini memiliki kebutuhan skincare yang semakin beragam. Perubahan tren ini kemudian ikut mendorong perkembangan inovasi skincare, mulai dari bahan aktif hingga formulasi produk yang ditawarkan.
Perubahan kebutuhan tersebut membuat industri skincare perlu terus berinovasi. Menurut Marketing Manager CISAS (PT. Citrasemesta Asrisejati), Gunawan Tegarbakti, produk skincare tidak bisa terus menawarkan solusi yang sama ketika kebutuhan konsumen terus berubah.
“CISAS selalu mencari formulasi yang unik dan sourcing yang baru,” ujar Gunawan dalam seminar di ajang Indo Beauty Expo 2026, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Brand Kosmetik Makin Banyak, Ini Strategi Brand Owner Skincare agar Tetap Bertahan
Table of Contents
ToggleTiga Arah Baru Inovasi Skincare
Menurut Gunawan, saat ini ada tiga arah yang mulai berkembang dalam inovasi skincare, yaitu clinic inspired actives, longevity, dan evidence-based beauty. Salah satu fokus yang mulai banyak dikembangkan adalah regenerative skincare.
Dalam perkembangan ini, ada tiga bahan aktif yang menjadi sorotan, yaitu PDRN, NAD+, dan exosome. Ketiganya menjadi bagian dari perkembangan inovasi skincare yang mulai mengarah pada perawatan kulit dengan pendekatan yang lebih spesifik.
Pemilihan ketiga bahan tersebut bukan tanpa alasan. Saat melakukan riset di Korea Selatan, Gunawan melihat PDRN, NAD+, dan exosome banyak ditemukan di berbagai retailer kecantikan di sana.
“Di Korea, tiga ingredients ini cukup mendominasi di berbagai retailer kecantikan. Ini menjadi salah satu yang kami lihat sebagai perkembangan baru dalam inovasi skincare,” jelasnya.
Baca Juga: Maklon Skincare dengan Formula Inovatif Mengikuti Tren Global
PDRN, Exosome, dan NAD+ Punya Fungsi Berbeda
Medical Scientific Support CISAS, dr. Oscar Wiradi Putera, menjelaskan bahwa ketiga bahan aktif tersebut memiliki fungsi yang berbeda.
Exosome dapat diibaratkan seperti kendaraan yang membawa berbagai material antar sel. Sementara itu, PDRN merupakan bahan berbasis DNA yang dikembangkan untuk membantu proses penyembuhan luka dan regenerasi kulit. Adapun NAD+ berkaitan dengan energi sel dan proses penuaan.
“Ada tiga bahan aktif yang mulai naik, yaitu exosome, PDRN, dan NAD+. Exosome ibarat kendaraan yang bisa mengangkut antar sel. PDRN membantu proses penyembuhan luka sehingga regenerasi bisa lebih cepat,” jelas dr. Oscar.
Penggunaan ketiganya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan kulit. Exosome banyak digunakan untuk produk anti-aging. Sementara PDRN dapat digunakan untuk membantu pemulihan kulit, termasuk kulit dengan bekas luka. PDRN juga dapat digunakan dalam produk dengan manfaat anti-aging dan brightening.
“Kalau fokusnya pada pemulihan luka atau ada bekas luka yang ingin diperbaiki, bisa menggunakan PDRN. Namun, PDRN juga bisa untuk anti-aging dan brightening. Sedangkan NAD+ baik untuk energi atau kesegaran kulit,” ujar dr. Oscar.
Menurutnya, NAD+ juga mulai dilirik untuk mendukung konsep healthy aging. Seiring bertambahnya usia, sel juga mengalami proses penuaan. Karena itu, NAD+ dapat digunakan sebagai salah satu bahan yang mendukung fungsi sel.
Baca Juga: Layanan CISAS, Dari Pengembangan Produk hingga Registrasi BPOM
CISAS Kembangkan Kombinasi Tiga Bahan Aktif
PDRN, exosome, dan NAD+ sendiri mulai digunakan oleh sejumlah brand skincare lokal. Namun, menurut Gunawan, masih terdapat peluang untuk mengembangkan formulasi yang menggabungkan ketiganya.
CISAS pun mulai mengembangkan formulasi yang mengombinasikan PDRN, exosome, dan NAD+ dalam satu produk. Ketiga bahan tersebut tidak digunakan secara terpisah sehingga manfaat dari masing-masing bahan dapat saling melengkapi.
“Ingredients ini sudah ada benefit-nya masing-masing, tapi CISAS mencoba formulasikan digabung. Karena ketika ingredients ini disatukan, otomatis benefit-nya akan lebih tinggi lagi,” kata Gunawan.
Pengembangan tersebut menjadi salah satu cara CISAS untuk mengikuti perubahan kebutuhan konsumen yang semakin spesifik. Inovasi skincare kini tidak hanya soal mengikuti bahan aktif yang sedang populer, tetapi juga bagaimana mengembangkan kombinasi bahan yang sesuai dengan kebutuhan kulit.
Baca Juga: CISAS Hadir di Indo Beauty Expo 2026, Bawa 5 Inovasi Produk Terbaru!
Inovasi Sumber Bahan Baku: dari Animal ke Rose PDRN
Salah satu tantangan pada generasi awal PDRN adalah penggunaan sumber dari hewan, seperti DNA salmon. Meski secara fungsi animal PDRN dinilai efektif, sebagian konsumen mengalami reaksi alergi akibat sensitivitas kulit terhadap bahan tersebut.
Menjawab tantangan ini, CISAS mengembangkan formula alternatif berbasis tumbuhan. “Oleh karena itu, di CISAS juga membuat formula baru, kita gunakan rose PDRN,” ujar Gunawan.
Langkah ini menjadi salah satu upaya CISAS dalam menghadirkan inovasi skincare melalui formulasi regenerative skincare yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, sekaligus mengikuti perkembangan riset dan bahan aktif terbaru di industri kecantikan global.





